Kp., Klapanunggal, Kec.Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16710

 

Bosen weekend gitu gitu aja ? main handphone, nonton televisi, tidur-tiduran ngga jelas dirumah, kesana kemari ngabisin uang jajan. Berhubung kita yang emang punya basic ngga bisa diam dan selalu mencari kesibukan dan mencari hiburan yang biayanya sedikit miring (Apa ya *mikirkeras*), diputuskan untuk menjelajah daerah tetangga yang jaraknya tidak begitu jauh, hanya diperlukan waktu 2-3 jam untuk sampai kesana dengan sepeda motor. Dengan perbekalan dan peralatan yang sudah cukup lengkap, Sabtu pagi menjelang siang 28 Maret 2015 kami berangkat dari Utan Kayu menuju Tebing Klapanunggal.

Utan Kayu – Alternatif Cibubur – Cileungsi – Kelapanunggal, seringlah bertanya kepada penduduk sekitar, tidak adanya papan petunjuk keberadaan tebing ini sering kali membuat tersasar, bertanyalah jalan alternatif yang bisa dilalui kendaraan sepeda motor sebab setelah memasuki kawasan desa klapanunggal jalur terbagi menjadi dua, satu jalur melewati perumahan warga dan satunya lagi adalah jalur truk penambang bahan baku pembuatan semen.

Tebing Klapanunggal terletak di kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor,letaknya di area pertambangan PT Indocement Tunggal Perkasa TBK. Tebing ini memiliki ketinggian 1 pitch ( 45m ), dengan jenis batuan kapur serta tingkat kesulitan yang cukup tinggi, hampir semua jalur pada awalnya merupakan overhang yang minim pegangan ditambah tumbuhnya lumut di dinding tebing yang membuat licin, sekilas terlihat tebing ini sangat jarang sekali di gunakan oleh para pemanjat tebing. Sulitnya mendapatkan air bersih kami juga merasakan, akhirnya kami harus membeli air dalam kemasan untuk persediaan minum dan memasak. Ada sebuah goa kecil yang terdapat genangan air di bawah tebing, namun kami sendiri ragu untuk menggunakan air tersebut, bagaimana tidak ? disekeliling memang banyak genangan air, namun air tersebut kotor dan keruh.

Menurut cerita, daerah ini memiliki banyak bukit bukit kapur yang menjulang, jika dilihat dari ketinggian pun warnanya hijau, asri sekali. Tapi sayang, sekarang yang terlihat hanyalah bukit yang terbelah, tanah yang gersang. Pengerukan besar besaran terjadi di kawasan ini, truk truk lalu lalang mengangkut berton ton kubik hasil penambangan kapur, limbahnya pun kami rasa tidak dikelola sesuai prosedur AMDAL yang baik, baunya masih menyengat, warnanya pun kehitaman, mirisnya lagi air hasil limbah dialirkan ke sawah penduduk. Akankah 5 atau 10 tahun lagi tebing ini masih berdiri kokoh seperti sekarang ? Semoga saja tempat bermain kita ini tidak rata dengan tanah. (Sumber majalah info wisata edisi oktober 2017/Reza).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here