Masjid Agung Baiturrahman Aceh

Masjid Agung Baiturrahman Aceh –  Kebanggaan Aceh yang Melintasi Sejarah BPCB Aceh: Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, adalah Masjid Negara yang terletak di tengah Kota Banda Aceh atau di jantung Provinsi Nanggro Aceh Darussalam. Masjid Agung Baiturrahman dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda pada 1022 H / 1612 M.

 Dalam sejarah pembangunan masjid ini terdapat dua versi sejarah, beberapa sumber menyebutkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun 1292 M oleh Sultan Alauddin Johan Mahmudsyah. Sedangkan dari sumber lain, masjid ini didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 M.

Masjid Agung Baiturrahman memiliki lembaran sejarah tersendiri dan memiliki nilai yang tinggi bagi masyarakat Aceh, karena sejak Sultan Iskandar Muda hingga sekarang masih berdiri megah dan berfungsi sebagai tempat shalat, pengajian, acara keagamaan seperti maulid Nabi Besar. Muhammad SAW, peringatan 1 Muharram, Musabaqah Tilawatil Qur ‘an, tempat berlindung bagi warga kota. Masjid ini juga merupakan situs sejarah yang sudah ada sejak masa kejayaan Kesultanan Aceh.

 Masjid Peninggalan Sejarah ini juga menjadi salah satu objek wisata di Aceh dan tergolong masjid terindah di Asia yang banyak dikunjungi oleh berbagai belahan dunia baik dari dalam maupun luar negeri bahkan pengunjung lokal atau daerah Aceh sendiri. Masyarakat Aceh atau dari daerah yang datang ke Kutaraja (Kota Banda Aceh) jika tidak mengunjungi masjid dan salat di Masjidil Haram maka mereka beranggapan bahwa pergi ke Kota Banda Aceh itu tidak sah, demikian juga bagi masyarakatnya. Daerah Aceh memang sebuah kebanggaan tersendiri.

Dalam perjalanan sejarahnya, masjid ini pernah dibakar / dibakar oleh Belanda ketika menyerang Koetaradja (Banda Aceh) pada tanggal 10 April 1873. Ketika bangunan masjid tersebut roboh, terjadi perang dan terjadilah pertempuran sengit antara orang Aceh dan Belanda. , orang Aceh begitu marah dan mati-mati berjuang demi membela masjid, membela rumah Allah sampai mati. Selama pertempuran ini Belanda kehilangan komandannya, Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler pada tanggal 14 April 1873.

Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman dibakar, pada pertengahan shafar 1294 H / Maret 1877 M, dengan mengulangi janji jenderal Van Sweiten, Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Agung Baiturrahman yang telah dibakar.

Berikut adalah sejarah dari Masjid Agung Baiturrahman Aceh, dengan adanya masjid-masjid bersejarah kita dapat mengetahui bagaimana islam datang ke Indonesia. Seiring berjalannya waktu, banyak masjid-masjid megah berdiri di Indonesia tetapi berbeda dengan umat muslim yang berada didaerah terpencil yang sangat sulit mengakses masjid, karena harus menempuh jarak yang cukup jauh ke kota. Untuk menolong warga muslim yang membutuhkan tempat beribadah yang layak dan dekat, kita bisa membantu dengan menggalang donasi untuk pembangunan masjid pedesaan. Dengan dibantu yayasan yang peduli dengan kelangsungan beribadah umat muslim di pelosok-pelosok, anda dapat menyumbang melalui https://masjidpedesaan.or.id yang membantu mengumpulkan dana dari orang-orang dermawan yang menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan masjid dipedesaan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.